Pembangunan Pasar Induk Menyeret Tersangka Baru

30

Nunukan (Kaltara) Tabloidbongkar.com –Korupsi Pembangunan Pasar Induk di Nunukan yang ditangani Kejati Kaltim telah menjerat Khotaman (mantan kadis PU Nunukan) dan I Putu Budiarta (PPTK) sebagai pesakitan di Pengadilan Tipikor Samarinda.

Keduanya telah dijatuhi putusan pengadilan rasuah itu, masing-masing selama 1 tahun penjara awal April ini. Tak sampai di situ, Kejati terus mengembangkan perkara ini. Alhasil, dua tersangka baru ditetapkan atas perkara yang merugikan negara hingga Rp 13,7 miliar tersebut.

Tersangka pertama, Jayadi Rusman yang merupakan kontraktor pelaksana dari CV Amelia. Dia dicokok para beskal selepas bersaksi untuk kedua tersangka di Pengadilan Tipikor Samarinda pada 21 Februari 2017 lalu.

Kini giliran Baharuddin Sampe Ruru yang ditetapkan tersangka. PPTK yang digantikan I Putu Budiarta itu menjalani pemeriksaan kemarin di Kejati Kaltim. Dia diperiksa mulai pukul 10.00–15.00 Wita. Selepas diperiksa, Baharuddin langsung ditahan di Rutan Klas IIA Sempaja, Samarinda. Menyusul Jayadi yang lebih dulu mendekam di sana.

Kuasa hukum Baharuddin Sampe Ruru, Surasman, enggan berkomentar banyak soal penahanan kliennya. “Nanti dilihat di persidangan saja,” ucapnya selepas mendampingi kliennya menjalani pemeriksaan itu.

Sementara itu, Kajati Kaltim Fadil Zumhana menerangkan kembali mencuatnya tersangka baru dari perkara ini lantaran pidana korupsi sejatinya tak berdiri sendiri. “Kecil kemungkinan, apalagi dalam pembangunan infrastruktur seperti ini,” katanya.

Proyek yang menghabiskan duit negara sebesar Rp 13,7 miliar ini, urai Fadil, diskemakan Pemkab Nunukan dengan kontrak tahun jamak selama empat tahun. Pada 2006, pada tahun pertama kegiatan dana yang digelontorkan Pemkab Nunukan sebesar Rp 1,9 miliar. Tahun berikutnya, sebesar Rp 4 miliar, Rp 5,2 miliar, dan terakhir senilai Rp 2,597 miliar.

CV Amelia yang memenangi lelang nyatanya tak sedikit pun menyentuh kegiatan ini. Tiga bulan selepas perusahaan milik tersangka lain, Haji Batto ini dialihkan pengerjaannya ke Jayadi Rusman.

Meski telah dirampungkan pembangunannya, gedung Pasar Induk Nunukan ini tak juga difungsikan hingga kini. Dari penelusuran kejaksaan ditemukan banyak kerusakan bangunan, serta adanya penurunan lantai sedalam 5–10 cm. “Ada kesalahan konstruksi yang begitu fatal. Tapi, pemkab saat itu malah menerima bangunan tersebut dengan laporan telah selesai 100 persen,” jelas Fadil.

Untuk Baharuddin, diindikasi mengetahui adanya peralihan tugas dari CV Amelia ke Jayadi Rusman yang sejak awal menyalahi aturan. Ini diperkuat dengan bukti bernomor 600/10/SK-KDPU/IV/2016 tertanggal 24 April 2006 tentang penunjukan dirinya sebagai PPTK oleh kadis PU Nunukan saat itu, Khotaman. “Secepatnya bakal dilimpahkan,” pungkasnya. (Mozes)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY